Sektor Properti Topang Perekonomian

Diterbitkan: Selasa, 6 Juni 2023

Industri properti teruji tahan banting dalam menghadapi krisis ekonomi di masa pandemi Covid-19. Kontribusi properti terhadap perekonomian nasional perlu terus didukung sehingga bisa optimal menggerakkan industri lain yang terkait properti.

Hasil penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperlihatkan sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan selama periode 2018-2022 berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar Rp 2.349 triliun–Rp 2.865 triliun per tahun atau setara dengan 14,63-16,3 persen terhadap PDB nasional. Sektor properti tercatat memiliki keterkaitan dengan 185 sektor industri lain.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia M Arsjad Rasjid, mengemukakan, industri properti merupakan sektor usaha yang paling tahan banting di tengah krisis. Keterkaitan industri properti terhadap 185 sektor usaha yang terkait properti memiliki dampak pembangunan yang sangat besar dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

“Industri properti menjadi penopang utama dalam perekonomian Indonesia,” ujar Arsjad, dalam Diskusi “Kontribusi Industri Properti terhadap Perekonomian Indonesia,” yang diselenggarakan harian Kontan dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, di Jakarta, Senin (10/4/2023). Acara tersebut juga dibarengi peluncuran buku Membangun Indonesia melalui Industri Properti.

Menurut Arsjad, terdapat peluang besar industri properti yang perlu terus digarap, yakni pasokan perumahan yang terjangkau. Selain itu, kota hijau yang menjadi tren minat konsumen ke depan, serta Ibu Kota Nusantara (IKN) yang memiliki visi kota cerdas dan kota hijau. Pihaknya terus berupaya mendorong kemitraan sektor properti dengan lembaga keuangan dan investor guna menggarap inovasi dan peluang investasi baru.

Kepala Kelompok Kajian Ilmu Regional dan Kebijakan Energi LPEM FEB UI, Uka Wikarya, mengemukakan, peran strategis sektor properti, real estat dan jasa konstruksi tecermin dari kontribusi terhadap perekonomian nasional yang tidak pernah kurang dari 12 persen per tahun. Bahkan di masa pandemi Covid-19. Setelah melemah pada 2020, sektor properti kembali tumbuh pada tahun 2021 dan 2022.

Sektor properti, real estat dan jasa konstruksi menciptakan nilai perekonomian atau omzet sebesar Rp 4.740-Rp 5.788 triliun per tahun. Ketiga sektor itu menyediakan kesempatan kerja 13,8 juta orang, setara dengan 9,6 persen angkatan kerja nasional atau 10,2 persen penduduk bekerja pada 2022. Kontribusi itu dinilai akan meningkat jika didukung insentif kebijakan.

“Sektor properti dan bangunan punya keterkaitan ke seluruh sektor perekonomian, sehingga berdampak ekonomi ke sektor-sektor lainnya,” kata Uka.

Uka menambahkan, sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan serta efek penggandanya selama periode 2018-2022 disinyalir menghasilkan pendapatan pajak sekitar Rp 185 triliun per tahun atau setara 9,26 persen dari total penerimaan pajak pemerintah pusat. Selain itu, berkontribusi menekan tingkat kemiskinan di Indonesia sebesar 7,83 persen. Meski berperan strategis, sektor properti, real estat dan jasa kontruksi belum mendapat perhatian optimal karena keterbatasan asesmen dalam mengukur kontribusi sektor tersebut.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengemukakan, industri properti merupakan sektor terdepan yang menggerakkan perekonomian negara. Kebangkitan properti membuka peluang bagi masyarakat di berbagai sektor, menurunkan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja. Selain itu, mendorong industri komponen dalam negeri dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Selama triwulan III (Oktober-Desember) 2022, real estat tumbuh 4,54 persen, di antaranya dari pasokan rumah tipe besar yang tumbuh sebesar 17,8 persen secara tahunan. Investasi pada perumahan, kawasan industri dan perkantoran juga memiliki kontribusi terbesar keempat dengan nilai investasi Rp 109,4 triliun.

Meski demikian, sektor properti masih menghadapi tantangan, antara lain kekurangan rumah di Indonesia. Berdasarkan survei sosial ekonomi nasional (Susenas) 2020, sebanyak 12,75 juta rumah tangga di Indonesia belum memiliki rumah dan berpotensi terus meningkat seiring pertumbuhan rumah tangga baru sebanyak 700.000-800.000 keluarga setiap tahun.

“Kolaborasi dan inovasi perlu terus dilanjutkan dan tantangan diatasi melalui kolaborasi berbagai sektor,” kata Airlangga.

Iklim Kondusif

Menurut Uka, upaya memperbesar kontribusi properti perlu dilakukan dengan mendorong akses konsumen ke properti. “Properti tidak akan jalan kalau iklim usaha tidak bagus. Diperlukan upaya menciptakan iklim investasi di properti sebagus-bagusnya sehingga pengembang bekerja lebih efisien dan berimplikasi pada harga jual lebih murah, sehingga bisa dijangkau,” ujarnya.

Kepala Badan Pengembangan Kawasan Properti Terpadu (BKPT) Budiarsa Sastrawinata, mengemukakan, industri properti berperan besar terhadap perekonomian nasional. Industri properti tidak hanya terkait permukiman dan real estat, tetapi juga sejumlah sektor yang saling beririsan seperti superblok, komersial, kawasan permukiman, apartemen, kondominium, pusat perbelanjaan, hunian vertikal berkonsep kawasan berorientasi transit atau TOD, kota bandara, kota pelabuhan, kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, kawasan pariwisata, pariwisata, dan kegiatan konstruksi.

Industri properti juga berperan dalam pertumbuhan ekonomi lokal, penyediaan lapangan kerja dan tenaga kerja. Lebih dari 40 persen area pengembangan properti wajib diserahkan ke pemda sebagai sarana prasarana dan utilitas daerah, seperti drainase, fasilitas kesehatan, air bersih, jaringan telekomunikasi, listrik, dan sarana ibadah. Oleh karena itu, pemerintah pusat dan pemda diharapkan memberdayakan industri properti menjadi salah satu industri unggulan dalam ekositem jaringan rantai pasok yang semakin kondusif, di antaranya mengurai aturan tumpang tindih pusat dan daerah, serta pemberian insentif yang efektif untuk menjadikan industri properti semakin berdaya.

“Ekosistem yang kondusif tidak hanya membangkitkan industri properti, tetapi juga memperkuat industri properti sebagai lokomotif perekonomian nasional,” ujar Budiarsa.

sumber: https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2023/04/10/sektor-properti-tahan-banting